![]() |
| BIRO HAJI MURAH SURABAYA |
“Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang ya Allah
yang tiada sekutu bagi-Mu. Segala puji dan nikmat dan segala kekuasaan
adalah hak-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”.
“Wahai Bilal… Istirahatkan aku dengan sholat”,
“Wahai Bilal… Istirahatkan aku dengan sholat”,
Ungkapan ini kerapkali Nabi Muhammad ucapkan manakala telah merasakan
kepenatan dengan urusan dunia. Ia menjadikan sholat sebagai sebuah
media relaksasi dari kelelahan aktivitas keseharian, karena jiwa dan
raga manusia membutuhkan waktu khusus dan kegiatan yang khusus untuk
mengembalikan kebugaran, konsentrasi dan kondisi yang prima secara
lahiriah ataupun bathiniyah.
Siapapun orangnya, apapun pekerjaan dan aktivitasnya, pasti akan
mencapai pada posisi dan situasi kejenuhan, yang pada akhirnya akan
menghadirkan kegelisahan serta ketidak nyamanan dalam mengarungi
perjalanan hidup yang sebenarnya hanya sesaat tetapi berkemaskan
keabadian.
Gemerlap dunia memang teramat menggoda, mampu membuai dalam suasana
keindahan yang membuat manusia lupa, setiap sudut yang ditampakkan
menghadirkan “syahwat” kepada sipenganut aliran hedonisme. Dunia dan
beserta semua aksesorisnya seakan menjadi tujuan dari hidup untuk
sebagian besar orang, belum dapat disebut meraih kesuksesan bila belum
mampu menaklukan dunia, dan menjadikan materi sebagai barometer untuk
sebuah kebahagiaan dalam hidup.
Akhirnya, maka tidak aneh bila banyak sekali yang terperangkap dalam
tipu daya syeitan, saling fitnah, iri dan dengki kepada sesama,
menghasut, korupsi bahkan sampai pada bentuk perbuatan kriminalitas yang
sudah pasti akan mengakibatkan kerugian buat orang lain, bukan hanya
mata mereka menjadi dibutakan dengan kebenaran, telinga menjadi tuli dan
hati-hati yang menjadi kendali akhlak ikut menjadi buta. Inilah mungkin
yang dimaksud al Quran surat al-a’raf ayat 179 :
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.
Sebagai pilihan utama untuk tetap menjadi orang-orang pilihan dan
tidak termasuk dalam type-type yang digambarkan oleh Allah dalam ayat
tersebut diatas, maka Islam telah menawarkan sebuah formula yang
mujarrab dan memang seharusnya ampuh sebagai penangkal propaganda yang
setiap saat dirancang apik oleh musuh-musuh manusia yaitu Syeitan dan
bala tentaranya. Haji ke tanah suci menjadi kekuatan dahsyat untuk
menghantarkan manusia kepada kefitrahan, model manusia yang
bagaimanapun, apabila telah melaksanakan ibadah yang satu ini maka
Rosulullah janjikan akan memperoleh keistimewaan yang teramat luar biasa
berupa terhapusnya semua dosa dan akan kembali suci bagaikan bayi yang
baru terlahir dari rahim seorang bunda.
Haji adalah wuquf di Padang Arafah, yang berarti pelajaran paling
besar yang akan didapatkan oleh seluruh jamaah haji adalah selama
pelaksanaan wuquf, yang merupakan waktu sakral yang memberikan
kesempatan kepada semua jamaah haji untuk bisa ‘berdialog’ dengan Allah,
menjalin hubungan mesra dan privat kepada Sang Maha Penentu Segala.
Banyak orang beranggapan, wuquf hanya bisa dilaksanakan di Padang
arafah dan pada tanggal 9 Dzulhijjah, pendapat ini tentunya tidak
terbantahkan, tetapi yang harus kita fahami adalah bahwa semangat wuquf
tidak berhenti ketika kita keluar dari Padang Arafah ataupun setelah
tanggal 9 Dzulhijjah. Semua yang dilakukan selama musim haji merupakan
sebuah pembelajaran yang semestinya setelah itu akan menjadi kebiasaan
kepada siapa saja untuk selalu menciptakan nuansa wuquf kapan dan
dimanapun berada.
Bayangkan…! Bila setiap orang yang pernah berhaji tetap membawa
semangat wuquf kekampung halamannya masing-masing dan mereka tetap
membangun hubungan harmonis secara vertikal kepada Allah Jalla wa ‘Azza,
pastinya akan tampak sebuah pemandangan hubungan sosial yang sangat
indah, tidak akan ada ghibah, namimah, sum’ah, ataupun semua bentuk
perbuatan yang meresahkan dan menimbulkan musibah bagi subyek maupun
obyeknya, karena nuansa wuquf tetap terbangun dan menjadi atmosfir yang
sangat kental dalam setiap keadaan.
Setiap tahunnya, tidak kurang dari 250.000 jamaah haji Indonesia yang
berbondong-bondong menuju kota Makkah dan Madinah, bahkan banyak orang
yang berusaha bisa berhaji setiap tahunnya untuk melakukan re-charge
pengalaman spritualnya. Magnit Ka’bah al-Musyarrofah seakan menghujam
begitu dalam kesetiap relung hati kaum muslimin diseantero dunia,
terutama kepada kaum muslimin Indonesia, sehingga Departemen Agama dalam
hal ini mengeluarkan aturan berhaji 5 tahun sekali buat mereka yang
sudah pernah melaksanakannya. Idealnya, bila orang-orang yang telah
melaksanakan haji mampu mempertahankan volume ibadahnya selama dalam
perjalanan ibadah sekembalinya ke rumahnya masing-masing, maka pasti
akan tersuguhkan kemilau-kemilau akhlak dan kepribadian yang sangat
menawan.
Karenanya, untuk merealisasikan pelajaran mahal dari berhaji yang
puncaknya adalah pelaksanaan wuquf di Padang Arafah, maka tidak ada
pilihan lain kecuali kita harus mampu berwuquf setiap saat, kapan dan
dimanapun kita berada. Alhasil, siapapun orangnya pasti akan merasakan
betapa indah dan berharganya hari-hari yang dilalui dengan aroma wuquf,
dan tentunya ini membuka peluang dan harapan kepada siapapun yang belum
dan tidak mampu menyiapkan uang dalam jumlah besar untuk tetap bisa
berhaji dan bahkan berkali-kali. Wallahu A’lam bi As-Shawaab.

